Menganggap menangis adalah hina, tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi marah ketika anaknya menangis. Itu mereka katakan penyebab tidak mampu melawan musuh-musuhnya. Orang tua Jepang marah kepada anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis hanya dilakukan oleh mereka yang tidak punya prinsip hidup.
Kesadaran membawa manfaat dunia dan akhirat. Kondisi hati tidak pernah stabil, terbolak balik menuruti keadaan. Saat bahagia, hati gembira. Saat dilanda musibah, banyak yang putus asa bahkan berpaling dari kebenaran. Apa salahnya menangis jika dengan menangis manusia menjadi sadar akan kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah SWT? Bagi seorang Muslim Mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati, pertanda kepekaan jiwa terhadap peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya.
Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq Ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai "Rojulun bakiy" (Orang yang selalu menangis), senantiasa menangis sampai dadanya bergolak manakala sholat di belakang Rasulullah Saw, saat mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur'an, sampai pada ayat:
"Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam" (QS. Al Muthaffifin: 6).
Monday, October 8, 2012
Surat untuk tuhan
Tuhanku,
Maklumi kami yang begitu banyak kegiatan. Sibuk, benar-benar sibuk. Kami kesulitan menyempatkan waktu untukMu. Jangankan berjamaah, sendiripun kami tunda-tunda. Jangankan Rawatib, zikir, berdo’a, tahajud, perintahMu yang lima waktu pun sudah memberatkan kami. Subuh, selalu kesiangan, karena terlalu larut istirahat malam hari, sibuk meyelesaikan tugas kerja. Dzuhur, selalu kerepotan, karena mengurusi setumpuk masalah pekerjaan yang harus selesai tepat waktu. Asar, ada di perjalanan. Maghrib, sudah kecapean. Isya’, ketiduran, sangat lelah. Jangankan shaum senin kamis, shaum Ramadhan pun sering dikeluhkan.

Tuhanku,
Maafkan kami. Kebutuhan kami di dunia ini masih sangat banyak. Urusan duniawi masih menyita waktu dan tenaga. Jadwal kami sangat padat, sulit menyempatkan waktu mencari bekal menghadapMu, belum bisa meluangkan waktu khusyu’ dalam ruku’, mengukur sujud, menangis, menghiba, berdo’a dan mendekatkan jiwa kami denganMu.
Kami juga kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadiMu. Jangankan bersedekah, jangankan menunaikan amal jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib pun sering lupa.
Maklumi kami yang begitu banyak kegiatan. Sibuk, benar-benar sibuk. Kami kesulitan menyempatkan waktu untukMu. Jangankan berjamaah, sendiripun kami tunda-tunda. Jangankan Rawatib, zikir, berdo’a, tahajud, perintahMu yang lima waktu pun sudah memberatkan kami. Subuh, selalu kesiangan, karena terlalu larut istirahat malam hari, sibuk meyelesaikan tugas kerja. Dzuhur, selalu kerepotan, karena mengurusi setumpuk masalah pekerjaan yang harus selesai tepat waktu. Asar, ada di perjalanan. Maghrib, sudah kecapean. Isya’, ketiduran, sangat lelah. Jangankan shaum senin kamis, shaum Ramadhan pun sering dikeluhkan.

Tuhanku,
Maafkan kami. Kebutuhan kami di dunia ini masih sangat banyak. Urusan duniawi masih menyita waktu dan tenaga. Jadwal kami sangat padat, sulit menyempatkan waktu mencari bekal menghadapMu, belum bisa meluangkan waktu khusyu’ dalam ruku’, mengukur sujud, menangis, menghiba, berdo’a dan mendekatkan jiwa kami denganMu.
Kami juga kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadiMu. Jangankan bersedekah, jangankan menunaikan amal jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib pun sering lupa.
Malaikat tak bersayapku
Ibu.Kau bagaikan malaikat tanpa sayap yang senantiasa hadir untukku
Kau berikan ketenangan dalam setiap keluh kesahku
Tampak mata lelahmu, tak henti menjagaku
Tak, pernah berhenti kau berikan cintamu
Tak peduli seberapa lelah dirimu
Tak peduli seberapa nakal anak-anakmu
Bahkan tak peduli jika dunia menjauhiku
Cintamu tak pernah habis
Dengan setia kau berikan cintamu
Demi kami anak-anakmu
Kau taruhkan nyawamu demi kelahiranku
Kau teteskan keringatmu demi membesarkanku
Karenamu aku disini
Karenamu aku mengerti
Terima kasih ibu
Cintaku untukmu selamanya
Special untuk Sang malaikat tak bersayap Herliana Sofi :**
Label:
Segores tinta
Sunday, October 7, 2012
Menjadi seperti yang Kau minta
Aku tau ku takkan bisa
Menjadi seperti yang Engkau minta
Namun selama aku bernyawa
Aku kan mencoba
Menjadi seperti yang Kau minta
Emm, pasti pernah denger lagu di atas. Yup lagu jaman dulu yang dinyanyiin sama almarhum om Chrisye. Kalo konteks asli lagu ini sih, untuk seseorang yang dicinta. Nah, kalo bagi aku??? Emm,, berasa lagu galau emang. Tapi, sebenernya ini efek sesuatu. Ceritanya aku sedang memeriksa diri. Berasa jauh sama Allah, merasa belum sempurna seperti yang Allah minta. Bahkan sangat jauh dari yang Allah minta. Tapi, seperti lagu di atas, selama nafas berhembus aku kan mencoba bahkan bertekad, menjadi sepeerti yang Allah minta. :)
Menjadi seperti yang Engkau minta
Namun selama aku bernyawa
Aku kan mencoba
Menjadi seperti yang Kau minta
Emm, pasti pernah denger lagu di atas. Yup lagu jaman dulu yang dinyanyiin sama almarhum om Chrisye. Kalo konteks asli lagu ini sih, untuk seseorang yang dicinta. Nah, kalo bagi aku??? Emm,, berasa lagu galau emang. Tapi, sebenernya ini efek sesuatu. Ceritanya aku sedang memeriksa diri. Berasa jauh sama Allah, merasa belum sempurna seperti yang Allah minta. Bahkan sangat jauh dari yang Allah minta. Tapi, seperti lagu di atas, selama nafas berhembus aku kan mencoba bahkan bertekad, menjadi sepeerti yang Allah minta. :)
Label:
My song,
Segores tinta
Menulislah hari ini, esok, dan selamanya
Entah sejak kapan aku mulai menyukai dunia menulis. Entah memang sejak dahulu saat aku terbiasa menulis "dear diary", tapi mungkin juga sejak aku belajar jurnalistik. Aku mulai menyukai dunia ini dan aktif dalam dunia ini semenjak SMA. Mungkin benar kata banyak orang SMA adalah masa-masa yang paling bermakna, dan tak terlupakan. Banyak kisah di SMA, dan di tempat inilah aku mulai menyukai dunia menulis. Bagiku menulis bak menari. Menari-nari jari tanganku, melukiskan berbagai pikiran. Dan kini aku menikmati dunia ini. Aku ingin membawa duniaku untuk membawa perubahan pada aku, kamu, mereka, dan kita semua. Dunia ini akan aku jadikan salah satu media dakwah. Terima kasih untuk Bapak Farid Wadjdi sang guru jurnalistik pertamaku, SMAIT Insantama wadah yang membentukku, JAISH wadah curahanku, dan kalian SAGACIOUS para pendukungku. :)
Menulislah untuk hari ini, esok, dan selamanya.
-seruni aqila al-haq-
Menulislah untuk hari ini, esok, dan selamanya.
-seruni aqila al-haq-
Saturday, October 6, 2012
Kemarin, hari ini, dan selamanya
bersamamu ku habiskan waktu
senang bisa mengenal dirimu
rasanya semua begitu sempurna
sayang untuk mengakhirinya-
kamu sangat berarti, istimewa di hati
selamanya rasa ini
jika tua nanti kita kan hidup masing-masing
ingatlah hari ini-
entahlah ada apa denganku.
yang pasti ini bukan lagu galalu.
pasti pernah dong berpisah sama teman sekolah. baik itu teman TK, SD, SMP, bahkan SMA.
sedih, kesepian, kangen, dan segala embel-embel sejenis lah.
waktu akan terus berputar, tak akan kembali lagi pada masa lalu.
waktu tak bisa dibeli dengan uang milyaran, tak bisa terbayarkan oleh apapun.
pepatah bilang " setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan"
dan aku hanya mengharapkan pertemuan yang abadi.
pertemuan di Surga Allah.
semoga kemarin, hari ini, dan esok
bukan akhir dari semuanya. Amin
special for Ibu, buya, Farhan, Nabila, Fachry SAGACIOUS
senang bisa mengenal dirimu
rasanya semua begitu sempurna
sayang untuk mengakhirinya-
kamu sangat berarti, istimewa di hati
selamanya rasa ini
jika tua nanti kita kan hidup masing-masing
ingatlah hari ini-
entahlah ada apa denganku.
yang pasti ini bukan lagu galalu.
pasti pernah dong berpisah sama teman sekolah. baik itu teman TK, SD, SMP, bahkan SMA.
sedih, kesepian, kangen, dan segala embel-embel sejenis lah.
waktu akan terus berputar, tak akan kembali lagi pada masa lalu.
waktu tak bisa dibeli dengan uang milyaran, tak bisa terbayarkan oleh apapun.
pepatah bilang " setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan"
dan aku hanya mengharapkan pertemuan yang abadi.
pertemuan di Surga Allah.
semoga kemarin, hari ini, dan esok
bukan akhir dari semuanya. Amin
special for Ibu, buya, Farhan, Nabila, Fachry SAGACIOUS
Label:
My song,
Segores tinta
Subscribe to:
Posts (Atom)

