Telah kutabur benih cinta di ladang, tetapi waktunya salah hingga benih itu sama sekali tak tumbuh, bahkan mati. Itu karena aku tak tahu di mana dan bagaimana harus menaburnya.
Ajari aku menyiram benih cinta itu dengan air kesabaran; memupuknya dengan kasih sayang; menyemprot hama kecemburuan dan menahan goncangan badai; serta mampu menyingkirkan gulma (liar) dengan pisau pengertian.
Aku ingin tahu arti kehidupan ini. Aku tidak mau salah lagi setelah benar menaburnya. Aku mau marawatnya hingga tumbuh dan berbuah manis.
By : Islisyah Asman
Monday, October 8, 2012
Siluet senja
Hening sempurnamentari menatap bumi
mampu mendamaikan hati.
Mengurai sepi agar bermimpi
menembus masa kanak-kanak dan usia senja
lalu mampu menelikung sukma.
Kabut dan hujan menunggu
awan. angin, dan matahari menanti senja
menjerat sedih kala menghitung air jatuh satu-satu.
Mimpi mengikuti bayangan
mata terpejam, angan terbang kala menjalani takdir
malam berhenti mencari dan menanti nurani.
Tubuh dingin dan menggigil
tenggelam di dunia yang hilang
waktu menunggu dan ikut pulang.
Semburat mentari, silhuet senja hijau keemasan
menghantarkan angan dan syukur
kepada pemilik tahta yang tak terukur itu.
By : Islisyah Asman
Menangislah
Menganggap menangis adalah hina, tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi marah ketika anaknya menangis. Itu mereka katakan penyebab tidak mampu melawan musuh-musuhnya. Orang tua Jepang marah kepada anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis hanya dilakukan oleh mereka yang tidak punya prinsip hidup.
Kesadaran membawa manfaat dunia dan akhirat. Kondisi hati tidak pernah stabil, terbolak balik menuruti keadaan. Saat bahagia, hati gembira. Saat dilanda musibah, banyak yang putus asa bahkan berpaling dari kebenaran. Apa salahnya menangis jika dengan menangis manusia menjadi sadar akan kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah SWT? Bagi seorang Muslim Mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati, pertanda kepekaan jiwa terhadap peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya.
Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq Ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai "Rojulun bakiy" (Orang yang selalu menangis), senantiasa menangis sampai dadanya bergolak manakala sholat di belakang Rasulullah Saw, saat mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur'an, sampai pada ayat:
"Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam" (QS. Al Muthaffifin: 6).
Kesadaran membawa manfaat dunia dan akhirat. Kondisi hati tidak pernah stabil, terbolak balik menuruti keadaan. Saat bahagia, hati gembira. Saat dilanda musibah, banyak yang putus asa bahkan berpaling dari kebenaran. Apa salahnya menangis jika dengan menangis manusia menjadi sadar akan kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah SWT? Bagi seorang Muslim Mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati, pertanda kepekaan jiwa terhadap peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya.
Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq Ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai "Rojulun bakiy" (Orang yang selalu menangis), senantiasa menangis sampai dadanya bergolak manakala sholat di belakang Rasulullah Saw, saat mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur'an, sampai pada ayat:
"Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam" (QS. Al Muthaffifin: 6).
Surat untuk tuhan
Tuhanku,
Maklumi kami yang begitu banyak kegiatan. Sibuk, benar-benar sibuk. Kami kesulitan menyempatkan waktu untukMu. Jangankan berjamaah, sendiripun kami tunda-tunda. Jangankan Rawatib, zikir, berdo’a, tahajud, perintahMu yang lima waktu pun sudah memberatkan kami. Subuh, selalu kesiangan, karena terlalu larut istirahat malam hari, sibuk meyelesaikan tugas kerja. Dzuhur, selalu kerepotan, karena mengurusi setumpuk masalah pekerjaan yang harus selesai tepat waktu. Asar, ada di perjalanan. Maghrib, sudah kecapean. Isya’, ketiduran, sangat lelah. Jangankan shaum senin kamis, shaum Ramadhan pun sering dikeluhkan.

Tuhanku,
Maafkan kami. Kebutuhan kami di dunia ini masih sangat banyak. Urusan duniawi masih menyita waktu dan tenaga. Jadwal kami sangat padat, sulit menyempatkan waktu mencari bekal menghadapMu, belum bisa meluangkan waktu khusyu’ dalam ruku’, mengukur sujud, menangis, menghiba, berdo’a dan mendekatkan jiwa kami denganMu.
Kami juga kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadiMu. Jangankan bersedekah, jangankan menunaikan amal jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib pun sering lupa.
Maklumi kami yang begitu banyak kegiatan. Sibuk, benar-benar sibuk. Kami kesulitan menyempatkan waktu untukMu. Jangankan berjamaah, sendiripun kami tunda-tunda. Jangankan Rawatib, zikir, berdo’a, tahajud, perintahMu yang lima waktu pun sudah memberatkan kami. Subuh, selalu kesiangan, karena terlalu larut istirahat malam hari, sibuk meyelesaikan tugas kerja. Dzuhur, selalu kerepotan, karena mengurusi setumpuk masalah pekerjaan yang harus selesai tepat waktu. Asar, ada di perjalanan. Maghrib, sudah kecapean. Isya’, ketiduran, sangat lelah. Jangankan shaum senin kamis, shaum Ramadhan pun sering dikeluhkan.

Tuhanku,
Maafkan kami. Kebutuhan kami di dunia ini masih sangat banyak. Urusan duniawi masih menyita waktu dan tenaga. Jadwal kami sangat padat, sulit menyempatkan waktu mencari bekal menghadapMu, belum bisa meluangkan waktu khusyu’ dalam ruku’, mengukur sujud, menangis, menghiba, berdo’a dan mendekatkan jiwa kami denganMu.
Kami juga kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadiMu. Jangankan bersedekah, jangankan menunaikan amal jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib pun sering lupa.
Malaikat tak bersayapku
Ibu.Kau bagaikan malaikat tanpa sayap yang senantiasa hadir untukku
Kau berikan ketenangan dalam setiap keluh kesahku
Tampak mata lelahmu, tak henti menjagaku
Tak, pernah berhenti kau berikan cintamu
Tak peduli seberapa lelah dirimu
Tak peduli seberapa nakal anak-anakmu
Bahkan tak peduli jika dunia menjauhiku
Cintamu tak pernah habis
Dengan setia kau berikan cintamu
Demi kami anak-anakmu
Kau taruhkan nyawamu demi kelahiranku
Kau teteskan keringatmu demi membesarkanku
Karenamu aku disini
Karenamu aku mengerti
Terima kasih ibu
Cintaku untukmu selamanya
Special untuk Sang malaikat tak bersayap Herliana Sofi :**
Label:
Segores tinta
Sunday, October 7, 2012
Menjadi seperti yang Kau minta
Aku tau ku takkan bisa
Menjadi seperti yang Engkau minta
Namun selama aku bernyawa
Aku kan mencoba
Menjadi seperti yang Kau minta
Emm, pasti pernah denger lagu di atas. Yup lagu jaman dulu yang dinyanyiin sama almarhum om Chrisye. Kalo konteks asli lagu ini sih, untuk seseorang yang dicinta. Nah, kalo bagi aku??? Emm,, berasa lagu galau emang. Tapi, sebenernya ini efek sesuatu. Ceritanya aku sedang memeriksa diri. Berasa jauh sama Allah, merasa belum sempurna seperti yang Allah minta. Bahkan sangat jauh dari yang Allah minta. Tapi, seperti lagu di atas, selama nafas berhembus aku kan mencoba bahkan bertekad, menjadi sepeerti yang Allah minta. :)
Menjadi seperti yang Engkau minta
Namun selama aku bernyawa
Aku kan mencoba
Menjadi seperti yang Kau minta
Emm, pasti pernah denger lagu di atas. Yup lagu jaman dulu yang dinyanyiin sama almarhum om Chrisye. Kalo konteks asli lagu ini sih, untuk seseorang yang dicinta. Nah, kalo bagi aku??? Emm,, berasa lagu galau emang. Tapi, sebenernya ini efek sesuatu. Ceritanya aku sedang memeriksa diri. Berasa jauh sama Allah, merasa belum sempurna seperti yang Allah minta. Bahkan sangat jauh dari yang Allah minta. Tapi, seperti lagu di atas, selama nafas berhembus aku kan mencoba bahkan bertekad, menjadi sepeerti yang Allah minta. :)
Label:
My song,
Segores tinta
Subscribe to:
Posts (Atom)
