“Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidari yang
bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik, sebagai balasan bagi apa
yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-Waaqiah [56] : 22-24)
Seruni Aqila Al-Haq
Orang tuaku beharap kelak aku menjadi wanita yang
selalu menyampaikan kebenaran dan tumbuh seperti bunga seruni, yang dicintai
banyak orang dan bermanfaat bagi orang banyak. Aku seorang muslimah, aku
seorang muslimah yang terlahir untuk membuktikan bahwa agamaku benar, agamaku
sempurna, dan aku pun terlahir untuk memberikan hidupku kepada Sang Pencipta
dengan beribadah kepada-Nya.
Agustus silam…
Aku seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi,
berada sendiri disini tanpa kerabat membuatku harus istiqomah dengan
identitasku. Wajib hukumnya bagi seorang muslimah menutup aurat, seperti dalam
Al-Qur’an surah Al- Ahzab 59 “ Wahai
Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri
orang Mukmin, “ Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”
Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak
di ganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Bulan ini adalah masa orientasi mahasiswa baru,
dengan segudang tugas dari senior aku pun harus menjalankan apa yang diperintah
senior. Namun hal pertama yang aku lirik adalah pakaian yang harus di gunakan
yakni kemeja putih dengan rok hitam serta ikat pinggang. Aku sedari dulu
terbiasa menggunakan gamis, awalnya karena tuntutan sekolahku yang memang
berbasis Islamic School namun, semakin aku beranjak dewasa aku menyadari bahwa
gamis (jilbab) merupakan pakaian wajib muslimah. Bismillah Allah bersamaku, aku yakin! Akhirnya agar tetap
mengikuti peraturan kampus dan peraturan Allah, aku membawa kemeja putih dan
rok hitam ke penjahit “Bu, tolong disambung ya kemeja sama rok nya, tapi jangan
dirubah biar terlihat seperti potongan dan atasan” pintaku. Masa orientasi pun
sudah berlalu, kini aku sudah resmi menjadi seorang mahasiswi jurusan Fisioterapi.
Jurusan yang mana akan ada banyak praktek dan latihan dengan gerak tubuh.
Beberapa bulan kemudian Himpunan Mahasiswa Program
studi Fisioterapi mengadakan kegiatan Malam Keakraban, yang mana peserta
diminta untuk membawa pakaian olahraga untuk kegiatan outbound. Lagi-lagi aku
pun harus mengakalinya, aku tetap tenang di tengah kegalauan yang melanda,
apakah aku akan menanggalkan gamisku untuk outbound? Bismillah Allah bersamaku, aku yakin! Akhirnya aku memasukkan
gamisku yang cukup lebar sehingga aku dapat bergerak leluasa. Pagi itu teman-temanku
sudah berganti pakaian olahraga, aku pun demikian. Mereka semua mengenakan
celana, hanya aku yang terbungkus rapi dengan gamisku, jantungku
berdebar-debar, otakku menstimulus rasa tidak percaya diri. “ Ayooo, kamu bisa”
ucapku lirih menyemangati diri sendiri. Hingga seorang panitia menghampiriku
“ Kamu belum ganti pakaian olahraga? Kita mau
outbound” ucapnya
“ Saya izin pakai pakaian ini ya kak” ucapku
bergetar
Alhamdulillah panitia itu hanya tersenyum seraya
mengangguk. “ Terima kasih Ya Allah” batinku
Di pos 5 rupanya peserta harus melewati tantangan
untuk mencari kertas di atas bukit yang terjal, salah seorang teman
sekelompokku menatapku ragu. Aku hanya tersenyum seraya berkata “ Tenang aja
aku udah biasa daki gunung pakai pakaian seperti ini”. Akhirnya ia tersenyum
mengangguk seraya menyemangatiku. Aku berlari, memanjat, dan menaiki setiap
undakan bukit nan tinggi. Gamis yang membalut tubuhku tidak menghalangi
langkahku, aku pun menjaga agar gamisku tidak tersingkap tinggi walaupun aku
mengenakan celana panjang. “ Berhasil! Kelompokku menjadi pemenangnya”.
Rangkaian acara berjalan dengan lancar, pun dengan hatiku. Ada seberkas rasa
bahagia dan bangga yang menyelimutiku. “ Ya Allah hamba-Mu ini akan istiqomah
dengan identitasnya, berilah kekuatan hamba-Mu ini”.
Aku sudah beradaptasi dengan lingkungan baruku,
teman-temanku memang mengenakan penutup kepala (kerudung) namun, banyak dari
mereka yang belum mengenakan gamis. Mereka adalah orang-orang yang fashionable,
mengikuti trend kini. Bahkan terkadang aku iri melihat mereka yang modis
walaupun tidak syar’i, tapi segera ku tepis pikiranku. Aku lebih bangga dengan
pakaianku, aku bangga menjadi muslimah di semesta ini. Banyak kegiatan yang
menuntutku untuk mengenakan potongan atasan-bawahan namun aku pun selalu
mengakalinya dengan menyambung pakainku.
Aku dikenal sebagai seorang mahasiswi supel dan
aktif. Aku ikut beberapa organisasi,namun akademikku pun tetap baik, walaupun
terkadang banyak orang yang berbisik melihatku selalu mengenakan gamis. Karena
sifatku seiring berjalannya waktu aku memiliki banyak teman, tidak hanya dari
jurusanku namun dari berbagai jurusan. Aku selalu menanamkan dalam diriku “Take a great principle to get a best truth”.
___SSS___
“Islam dulu datang dalam keadaan aneh, dan suatu
saat Islam itu akan dianggap aneh. Maka berbahagialah orang yang dianggap aneh
tersebut, yakni orang yang melakukan perbaikan di tengah kondisi yang rusak”
(HR.Muslim)

